Senin, 28 November 2011

ANALISIS FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN


ANALISIS FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN





Makalah ini Disusun Sebagai Tugas Kelompok
Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Rustam Ibrahim, M.Pd

Disusun Oleh:

1.    Muhammad Imam Maqbulin          26.10.3.1.280
2.    Muhammad Ihsan                           26.10.3.1.283


FAKULTAS TARBIYAH DAN BAHASA
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2011










BAB I

PENDAHULUAN
Orang pada zaman sekarang ini telah meyakini tentang eksistensi pendidikan dari yang sifatnya umum sampai kepada yang khusus. Keyakinan ini semakin hari diperkuat dengan berkembangnya metode pengukuran dan cara analisa yang dapat dipercaya untuk menghasilkan data yang dipercaya pula. Dengan bahasa ilmiah lazim dikatakan “ Apa yang ada itu dapat dihayati karena dapat diukur”. Prinsip  dasar yang dikemukakan oleh Thorndike ini menjadi salah satu penggerak pengembangan ilmu pendidikan, yang pada waktu ini dapat dihayati dengan pengungkapan data kuantitatif yang merupakan salah satu kekayaannya. Tugas ilmu menjadi lebih Nampak hasilnya bila telah sampai pada terjangkaunya hasil-hasil penelitian yang pengujian hipotesa, laporan serta rekomendasinya.
            Disamping pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya kuantitatif seperti diatas, ad juga pertanyaan yang bersifat filosofisdan memerlukan jawaban yang filosofis, misalnya: Untuk apakah sebenarnya sekolah itu didirikan? Anak didik itu ada sebagai ia berada, sedangkan masyarakat dan menginginkan anak didik terbina sesuai ideology yang telah digariskan. Maka timbul pertanyaan, apakah yang seharusnya pendidik itu lakukan untuk memimpin anak didik itu untuk mewujudkan tujuan ditas.
            Jawaban pertanyaan pertama seharusnya berkisar pada konsep atau landasan pikiran bahwa pendidik memerlukan suatu lembaga di luar keluarga, yang mempunyai peranan bagi terbinanya masyarakat yang ideal. Sedangkan pertanyaan yang kedua diperlukan jawaban yang berupa konsep-konsep tentang isi dan proses pendidikan yang mempertemukan potensi anak didik dan gambaran manusia ideal menurut masyarakat dan Negara itu.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Analisa Filsafat Dalam Masalah Pendidikan
Masalah pendidikan, adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan keduanya pada hakikatnya adalah proses yang satu. Pengertian yang luas dari pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh lodge, yaitu bahwa: life is education, and education is life”, akan berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah proses pendidikan segala pengalaman sepanjang hidupnya merupakan dan memberikan pengaruh pendidikan baginya.
Filsfat yang dijadikan basis bagi pengembangan ilmu pendidikan dapat bersifat universal, yang dapat digunakan dimanapun dan kapanpun. Pengembangan dapat kita jadikan sebagai pedoman dalam pengembangan pendidikan untuk masa-masa yang akan datang. Dengan demilian dapat ditekankan bahwa filsafat tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan, sebab filsafat itu merupakan jiwa bagi pendidikan.[1]
Dalam arti yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar- dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol. Bagaimanapun luas sempitnya pengertian pendidikan, namun masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehiupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiannya, dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusianya. Dan pendidikan formal di sekolah hanya bagian kecil saja daripadanya. Tetapi merupakan inti dan bisa lepas kaitannya dengan proses pendidikan secara keseluruhannya.
Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Memang diantara permasalahan kependidikan tersebut terdapat masalah pendidikan yang sederhan yang menyangkut praktek dan pelaksanaan sehari-hari, tetapi banyak pula diantaranya yang menyangkut masalah yang bersifat mendasar dan mendalam, sehingga memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain dalam memecahkannya. Bahkan pendidikan juga menghadapi persoalan-persoalan yang tidak mungkin terjawab dengan menggunakan analisa ilmiah semata, tetapi memerlukan analisa dan pemikiran yang mendalam, yaitu analisa filsafat.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah kependidikan yang memerlukan analisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain:
1.      Masalah kependidikan pertama dan yang mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan itu. Mengapa pendidikan itu harus ada pada manusia dan merupakan hakikat hidup manusia itu. Dan bagaimana hubungan anatara pendidikan dengan hidup dan kehidupan manusia.
2.      Apakah pendidkan itu berguna untuk membawa kepribadian manusia, apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian manusia itu, ataukah faktor–faktor yang berasal dari luar / lingkungan dan pendidikan. Mengapa anak yang mempunyai potensi hereditas yang baik pula tidak mencapai kepribadian yang diharapkan: dan kenapa pula anak yang mempunyai potensi hereditas yang tidak baik, walaupun mendapatkan pendidkan dan lingkungan yang baik, tetap tidak berkembang.
3.      Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu. Apakah pendidikan itu untuk individu, atau untuk kepentingan masyarakat. Apakah pendidikan dipusatkan untuk membina kepribadian manusia ataukah untuk Pembinaan masyarakat. Apakah pembinaan manusia itu semata-mata untuk dan demi kehidupan riil dan material di dunia ini, ataukah untuk kehidupan kelak diakhirat yang kekal.
4.      Siapakah hakikatnya yang bertanggung jawab terhadap pedidikan itu, dan sampai dimana tanggung jawab tersebut. Bagaimana hubungan tanggung jawab antar keluarga, masyarakat, dan sekolah terhedap pendidikan, dan bagaimana tanggung jawab pendidikan tersebut setelah manusia dewasa.
5.      Apakah hakikat pribadi manusia itu. Manakah yang lebih utama untuk dididik: akal, perasaan atau kemauannya, pendidikan jasmani atau pendidikan mentalnya, pendidikan skil ataukah intelektualnya ataukah kesemuannya itu.
6.      Apakah isi kurikulum yang relaevan dengan pendidikan yang ideal, apakah kurikulum yang mengutamakan pembinaan kepribadian dan sekaligus kecakapan untuk memangku suatu jabatan dalam masyarakat, ataukah kurikulum yang luas dengan konsekusnsi yang kurang intensife, ataukah deangan kurikulum yang terbatas tetapi intensif penguasaanya dan bersifat praktis pula.
7.      Bagaimana asas penyelenggara pendidikan dan metode pendidikan yang baik, apakah sentralisasi, desentralisasi, ataukah otonomi (apakah oleh negara ataukah oleh swasta, dan sebagainya.)
Masalah-masalah tersebut, merupakan sebagian dari contoh–contoh problematika pendidikan, yang dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dan sistematis, atau analisa filsafat. Dalam memecahkan masalah-masalah tersebut, analisa filsafat mnggunakan berbagai macam pendekatan yang sesuai dengan permasalahanya. Di antara pendekatan (approach) yang digunakan antara lain :
a)      Pendekatan secara spekulatif atau pendekatan reflektif
Artinya: Memikirkan, mempertimbangkan, juga membayangkan dan menggambarkan. Ini adalah teknik pendekatan dalam filsafat pada umumnya. Dengan teknik pendekatan ini, dimaksudkan adalah memikirkan, mempertimbangkan dan menggambarkan tentang sesuatu obyek untuk mencari hakikat yang sebenarnya. Masalah-masala kependidikan memang berhubungan dengan hal–hal yang harus diketahui hakikat yang sebenarnya, misalnya apakah hakikatnya mendidik dan pendidikan itu, hakikat manusia, hakikat hidup, masyarakat individu, kepribadian, kurikulum, kedewasaan dan sebagainya.

b)      Pendekatan normatif
Artinya: nilai atau aturan dan ketentuan yang brlaku dan dijunjung tinggi dalam hidup dan kkehidupan manusia. Norma-norma tersebut juga merupakan masalah-masalah kependidikan, di samping dalam usaha dan proses pendidikan itu sendiri, sebagai bagaian dari kehidupan manusia, juga tidak lepas dari ikatan norma- norma tertentu. Dengan teknik Pendekatan normatif, dimaksudkan adalah berusaha untuk memahami nilai-nilai noma yang berlaku dalam hidup dan kehidupan manusia dan dalam proses pendidikan, dan bagaimana hubungan antara nilai-nilai dan norma-norma tersebut dengan pendidikan. Dengan demikian akan dapat dirumuskan petunjuk-petunjuk ke arah mana usaha pendidikan diarahkan.
c)      Pedekatan analisa konsep
Artinya pengertian, atau tanggapan seseorang terhadap sesuatu obyek. Setiap orang mempunyai pengertian atau tanggapan yang berbeda-beda mengenai yang sama, tergantung pada perhatian, keahlian dan kecenderungan masing-masing. Dengan analisa konsep sebagai Pendekatan dalam filsafat pendidikan, maksudnya adalah usaha memahami konsep dari para ahli pendidikan, para pendidik dan orang-orang yang menaruh perhatian atau minat terhadap pendidikan, tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Misalnya konsep mereka tentang anak, tentang jiwa, masyarakat, sekolah, tentang berbagai hubungan (interaksi) yang bersifat pendidikan, serta nilai-nilai dan norma-norma yang berkaitan dengan proses pendidikan.
d)     Analisa ilmiah terhadap realitas kehidupan sekarang yang aktual (scientific analysis of current life)
Pendekatan ini sasaranya adalah masalah-masalah kependidikan yang aktual, yang menjadi problema masa ini. Dengan menggunakan metode-metode ilmiah, dapat didiskripsikan dan kemudian dipahami permasalahan-permasalahan yang hidup dan berkembang dalam masyrakat dan dalam proses pendidikan serta aktivitas yang berhubungan dengan pendidikan.
Menurut Harry Schofield, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Barnadib dalam bukunya filsafat pendidikan, menekankan bahwa dalam analisa filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan digunakan 2 macam Pendekatan, yaitu:
1)      Pendekatan filsafat histories (historiko filosofis)
Yaitu dengan cara mengadakan deteksi dari pertanyaan- pertanyaan filosofis yang diajukan, mana-mana yang telah mendapat jawaban dari para ahli filsafat sepanjang sejarah. Dalam sejarahnya filsafat telah berkembang dalam sistematika, jenis dan aliran –aliran filsafat yang tertentu. Oleh karena itu, kalau diajukan pertanyaan tentang berbagai masalah filosofis dalam bidang pendidikan, jawabanya melakat pada masing-masing sistem, jenis dan aliran filsafat tersebut. Dari sekian jawaban tersebut, kemudian dipilih jawaban mana yang sesuai dan dibutuhkan.
2)      Pendekatan dengan menggunakan fisafat kritis.
Yaitu dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan diusahakan jawabannya secara filosofis pula, dengan menggunakan metode dan Pendekatan filosofis. Selanjutnya Schofild, mengemukakan ada dua cara analisa dalam Pendekatan filsafat kritis, yaitu Analisa bahasa (lingualistik) adalah usaha untuk mengadakan interpretasi makna yang dimilikinya. Sedangkan analisa konsep adalah suatu analisa mengenai istilah- istilah (kata-kata) yang mewakili gagasan atau konsep.
            Langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis permasalahan-permasalahan terutama dalam tatanan pendidikan yaitu:
-          Pengamatan (contohnya mangamati bagaimana perilaku mereka, karakteristik, keadaan sosial budaya dan lain-lain)
-          Percobaan (percobaan metodologi, bagaimana memecahkan masalah-masalah tersebut dengan metode-metode)
-          Pengumpulan data (setelah banyak melakukan percobaan, data yang telah diperoleh dikumpulkan dan dianalisis)
-          Hipotesis (menyimpulkan sementara yang belum diuji kebenaranya)
-          Verifikasi / Validasi (pemeriksaan atau pengujian terhadap hipotesis)
Setelah lulus verifikasi atau validasi maka pemikiran tersebut menjadi pengetahuan yang benar atau valid.
B.     Filsafat dan Teori Pendidikan
Tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan mengunakan metode ilmiah semata-mata. Banyak diantara masalah- masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan- pertanyaan filosofis, yang memerlukan Pendekatan filosofis pula dalam memecahkannya. Analisa filsafat terhadap masalah- masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori- teori pendidikan. Disamping itu jawaban- jawaban yang telah dikemukakan oleh jenis dan aliran fisafat tertentu sepanjang sejarah terhadap problematika pendidikan yang dihadapinya, menunjukan pandangan- pandangan tertentu, yang tentunya juga akan memperkaya teori-teori pendidikan. Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara filsafat dengan teori pendidikan. Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut ialah:
a.       Dalam arti analisa filsafat, filsafat adalah merupakan salah satu cara Pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori- teori pendidikannya, disamping menggunakan metode- metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagai pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek. Misalnya filsafat idealisme, realisme, materialisme dan sebagainya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori- teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori- teori pendidikan yang di kembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori- teori dan pandangan- pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh fillosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.
b.      Filsafat juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata, artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
c.       Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu. Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik).
Di samping hubungan fungsional tersebut, antara filsafat dan teori pendidikan, juga terdapat hubungan yang bersifat suplementer, sebagaimana dikemukakan oleh Ali Saifullah dalam bukunya “Antara Filsafat dan Pendidikan”, sebagai berikut :
Ø  Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
Ø  Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan Negara.
Definisi di atas merangkum dua cabang ilmu pendidikan yaitu, filsafat pendidikan dan sistem atau teori pendidikan, dan hubungan antara keduanya adalah bahwa yang satu “supplemen”(saling melengkapi) terhadap yang lain dan keduanya diperlukan oleh setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya sebagai pengajar di bidang studi tertentu”.




SIMPULAN
Tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan mengunakan metode ilmiah semata. Melainkan juga dengan cara pendekatan filosofis karena banyak masalah kependidikan yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis.
Adanya hubungan antara filsafat dan teori pendidikan yakni hubungan fungsional dan hubungan suplementer.

  
DAFTAR PUSTAKA

Barnadib, Imam, M.A., Ph.D. 1988. Filsafat Pendidikan. Cet 5. Yogyakarta: Andi Offset.
Jalaluddin, Prof. Dr. H.2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.

Soekarno, Drs. H. 1990.  Sejarah dan  Filsafat Pendidikan Islam . Bandung: Angkasa
Suharto, Totok. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-ruzz.





[1] Jalaluddin, Prof. Dr. H.2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media hal 142

0 komentar:

Poskan Komentar