Sabtu, 16 April 2011

makki n madani

MAKALAH MAKKIYAH DAN MADANIYAH




Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Quran   
Dosen pengampu: Drs. Abd. Faeshol, M. Hum

Disusun oleh:
1. Laila Yuni Syarifah        (26.10.3.6.021)
2. Luqy Alvin Ni’amah      (26.10.3.6.022)
3. M. Imam Maqbulin       (26.10.3.6.023)

                                                         JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011


PENDAHULUANAN

A.      Latar Belakang

            Semua bangsa pasti berusaha untuk melestarikan warisan pemikirannyabegitupun  dengan  Islam  mereka  sangat  memperhatikan  risalah  Nabi Muhammad Saw, terlebih lagi Al-qur’an adalah mukjizat Nabi yang terbesar dan juga merupakan kitab suci yang menjadi pedoman seluruh umat islam.[1]
            Para ulama dan ahli tafsir terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan surat-surat  Al-Qur’an. Mereka meneliti al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat untuk disusun sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkannya sesuai dengan waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti obyektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makkiyah dan Madaniyah.
Pada umumnya, para pakar Ulum Al-quran membahas permasalahan ini dalam suatu maudlu yang lazim disebut Makkiyah dan Madaniyah. Bila tidak menguasainya, kecuali banyak faidah yang tidak dapat dipetik, juga orang akan banyak mengalami kesulitan dalam mendalami Al- Quran. Bahkan seseorang yang hendak mengetahui  Al-Quran tanpa memahami apa itu ayat- ayat Makkiyah dan apa itu ayat- ayat Madaniyah, bisa- basa terjebak ke dalam kesalahan yang fatal.

PEMBAHASAN
 
A.     Pengertian Makiyyah dan Madaniyyah.

Studi tentang ayat- ayat Makkiyah dan Madinyah sesungguhnya tidak lebih dari memahami penggelompokan ayat- ayat Al-Quran berdasarkan waktu dan tempat turunya sebuah atau beberapa buah ayat Al-Quran. Al-Qur’an turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun dan sebagian besar diterima oleh Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلاً
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106)
Oleh karena itu para ulama membagi Al-Qur’an menjadi dua bagian, yaitu : Makkiyah dan Madaniyah. Makkiyah adalah wahyu (surat dan ayat) yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd SAW sebelum berhijrah ke Madinah, yaitu 12 tahun 5 bulan 13 hari. Yakni dari 17 Ramadhan tahun 41 dari Milad hingga awal Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi. Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW setelah berhijrah ke Madinah. Yaitu selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Yaitu dari permulaan Rabi’ul Awal tahun 54 dari Milad Nabi , hingga 9 Dzulhijjah tahun 63 dari Milad Nabi, atau tahun 10 Hijrah.[2]
Berdasarkan hal tersebut maka firman Allah ‘Azza wa Jalla:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maa’idah: 3)
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 (dua puluh tiga) tahun. Ayat-ayat dan suart-surat dalam Al-Qur’an terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan perbedaan tempat turunnya, waktu, sebab dan kondisinya.
Sebagian besar surat dan ayat Al-Qur’an itu Makkiyah dan sebagian lagi Madaniyah. Surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah disebut surat Makkiyah dan yang diturunkan setelah Nabi hijrah disebut surat Madaniyah. Walaupun turunnya di luar kota Madinah, atau bahkan dikota Mekah itu sendiri. Surat Makkiyah merupakan bagian terbesar dari surah-surah Al-Qur’an, khususnya surat-surat pendek.
Sebagian surat dan ayat Al-Qur’an ada yang diturunkan ketika Nabi sedang melakukan perjalanan (safar), dan sebagian lagi ketika beliau tidak sedang dalam bepergian. Begitu juga ada yang diturunkan diwaktu malam hari dan ada yang turun di waktu siang hari. Ada yang turun diwaktu perang dan ada juga yang turun diwaktu damai. Ada yang turun dibumi dan ada yang turun dilangit. Ada yang turun ketika nabi berada ditengah-tengah orang banyak dan ada yang turun ketika beliau sedang sendirian.
Dalam istilah, Makkiyah dan Madaiyah adalah sebagai ilmu yang membahas tentang surat-surat dan ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan yang diturunkan di Madinah. Sedangkan definisi surat Makkiyah dan surat Madaniyah menurut pendapat sebagian besar ulama, surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum Nabi Hijrah. Sedangkan surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah Nabi hijah ke Madinah.
 Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa definisi terminologi Makiyyah dan Madaniyyah ada empat Perspektif diantaranya :
1. Dari perspektik masa turun.
Makiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah Hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah  ayat-ayat  yang  turun  setelah  Rasulullah  hijrah  ke Madinah, kendatipun  bukan  turun  di  Madinah.  Ayat-ayat  yang  turun  setelahperistiwa hijrah disebut madaniyyah walaupun turun di Mekah atau Arafah.
2. Dari Perspektif tempat turun.
Makiyyah ialah ayat-ayat yang turun di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyyah, sedangkah Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba, dan Sula .
3. Dari Perspektif Objek Pembicaraan.
Makiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab orang-orang Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab orang-orang Madinah.
4. Dari Perspektif Tema Pembicaraan.
Ayat-ayat Makiyyah mengandung tema kisah-kisah para Nabi danumat-umat terdahulu, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah mengandung tema Fara’id dan ketentuan Had.
Sekalipun definisi di atas pada dasarnya merupakan bagian dari usaha pengklasifikasian ayat- ayat Al- Quran. Dengan pengklasifikasian yang teliti berdasarkan tempat dan waktu turunya ayat, akan diketahui ayat-ayat mana saja yang turun lebih dahulu dan turun kemudian.[3] Selanjutnya akan diketahui pula kronologi turunnya ayat atau ayat- ayat tertentu. Dari pengetahuan mengenai Makkiyah dan Madaniyah ini, sekurang- kurangnya akan didapati tiga faidah, yaitu :
1.    Mengetahui ayat- ayat mana saja yang nasikh dan ayat- ayat mana saja yang mansukh bila terlihat adanya dua ayat yang berbeda pesan.
2.    Bahwa makna dan pesan yang dikandung ayat tertentu sering kali berkaitan dengan sebab tertentu , pada kasus dan tempat kejadian tertentu pula. Dengan adanya klasifikasi ini, usaha memahami ayat Al-Quran secara benar akan sangat terbantu , dan kekeliruan akan dapat ditekan  sekecil mungkin.
3.    Bahwa kehidupan Rasulullah SWT adalah uswah hasanah, suri tauladan bagi setiap mukmin. Maka dengan melihat ayat- ayat yang turun di Mekah dan Madinah akan diketahui pendekatan pembinaan pada pribadi maupun masyarakat mukmin yang dilakukan  Al- quran. Masyarakat Mekah adalah masyarakat yang berbeda dengan Madinah. Dan kondisi umat maupun kalangan bukan muslim setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah berbeda dengan keadaannya ketika sebelum Rasulullah hijrah. Dan, karakter penduduk mekah berbda dengan penduduk Madinah.[4]
Di setiap sudut atas lembaran Alqur’an selalu ditemukan keterangan surah al-makkiyah dan surah al-madaniyah. Demikian pula dalam Alquran dan Tarjamah sumbangan King Abdul Aziz Saudi Arabia, keterangan makkiyyah dan madaniyah ditulis secara khusus dalam muqaddimah. al-Makkiyah dan al-Madaniah merupakan salah satu tema penting dalam pembahasan ‘Ulum al-Qur`an. Semua ulama sejak dulu hingga sekarang tidak pernah melewatkan tema ini, khususnya dalam konteks penafsiran Al-Qur’an. Kepentingannya terasa sangat diperlukan terutama terkait dengan bagaimana memahami kandungan Al-Qur’an. Munculnya beberapa kekeliruan dalam penafsiran disinyalir karena tidak menggunakan pijakan kronologi sejarah pewahyuan, baik yang terkait dengan asbab al-nuzul, al-makkiyah dan al-madaniyah maupun al -nasikh wa al-mansukh. Istilah Makkiyyah dan Madaniyah sebenarnya diambil dari dua nama kota Makkah dan Madinah, tempat Rasulullah menerima wahyu Al-Qur’an. Penggunaan dua nama kota tersebut dalam tema ‘Ulum al-Qur`an dimaksudkan untuk menginformasikan ada wahyu yang turun di Makkah dan ada pula yang turun di Madinah atau di tempat lain.
4.    Menurut Imam al-Zarkasyi, seorang pakar ‘Ulum al-Qur’an, sebenarnya istilah Makkiyah dan Madaniyah dalam pembahasan ‘Ulum al-Qur’an memiliki tiga konotasi:  berkonotasi tempat, berkonotasi periode waktu (sebelum atau sesudah hijrah),  berkonotasi objek wahyu (khithab), tergantung kepada penduduk kota mana (Makkah/Madinah) wahyu itu ditujukkan. Karena alasan fleksibelitas dan ketercakupan semua wahyu, ahirnya Imam al-Zarkasyi dan juga al-Suyuthi merekomendasikan konotasi kedua sebagai pijakan, sehingga kemudian menjadi populer digunakan oleh para ulama tafsir dan ‘Ulum al-Qur’an.
5.    Secara historis, Al-Qur’an yang terdapat dalam mushaf sekarang, memang tidak disusun secara kronologis berdasarkan periode kesejarahan turunnya wahyu berdasar makkiyah dan madaniah. Para ulama sepakat bahwa meski Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur dalam berbagai rentetan peristiwa, situasi dan kondisi, namun susunannya dalam mushaf sekarang, memang disusun secara rapi atas petunjuk Rasulullah sendiri setiap kali wahyu itu turun.

 

B.     Urgensi Pembagian Surat Makkiyah Dan Madaniyah


Madaniyah atau Makkiyah (penetapan aghlabiyah) dan penetapan berdasar pada surat apakah diawali dengan ayat yang turun di mekkah atau madinahsehingga ditentukan dengan berdasar pada muatan ayat awal pada surat,apakah Makkiyah atau Madaniyah (penetapan kontinuitas)Masih terkait dengan pengklasifikasian surat dalam A1-Qur’an. Ternyata,banyak  manfaat  yang  didapatkan  dalam  menekuni  pengklasifikasiannya.diantaranya menurut al-Zarqani di dalam kitabnya yang berjudul Manahilul‘Irfan yaitu “kita dapat membedakan dan mengetahui ayat yang Manshuk danNasikh. Yakni, apabila terdapat dua ayat atau lebih mengenai suatu masalah,sedang  hukum  yang  terkandung  di  dalam  ayat-ayat  itu  bertentangan.Kemudian dapat diketahui, bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang yanglainnya Madaniyah; maka sudah tentu ayat yang Makkkiyah itulah yangdinasakh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang madaniyah adalah yangterakhir turun”.
Urgensi mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut :
a. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al Qur`an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh, bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh yang tedahulu.
b. Meresapi gaya bahasa Al-Quran dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah. Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam retorika. Karakteristik gaya bahasa makkiyah dan madaniyah dalam Al-Quran pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaaannya serta menguasai apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
c. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur`an. Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode Mekkah maupun Madinah. Sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur`an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah SAW, perihal hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Al-Quran.[5]
d.Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dengan mengetahui kronologis Al-Qur’an seorang mufassir dapatmemecahkan makna kontrakdiktif dalam dua ayat yang berbeda yaitudengan konsep Nasikh-Mansukh.
e.Pedoman bagi langkah-langkah dakwa. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda pada ayat Makiyyah dan Madaniyyah  memberikan  informasi  metodologi  bagi  cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan mustami’. Memberi informasi tentang Sirah KenabianAl-Qur’an adalah rujukan Otentik bagi perjalanan Dakwah Nabiyang tidak diragukan lagi. Perjalanan dakwah Nabi ini berjalan seiringdengan penahapan turunnya wahyu baik di Mekkah atau Madinah.
f. Dapat mengetahui dengan jelas sastra Al-Qur’an pada puncak keindahannya, yaitu ketika setiap kaum diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.
g. Dapat mengetahui puncak tertinggi dari hikmah pensyariatan diturunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan prioritas terpenting kondisi obyek yang di dakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan taat.
h. Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing
i. Dapat membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat Makkiyah dan Madaniyah, maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun setelah ayat Makkiyah.[6]
Kegunaan dan manfaat mengetahui Surat Makkiyah dan Surat Madaniyah banyak sekali dan merupakan cabang ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat penting untuk diketahui dan dikuasai oleh seorang mufassir, sampai-sampai kalangan Ulama al-Muhaqqiqun tidak membenarkan seorang penafsir Al-Qur’an tanpa mengetahui ilmu Makkiyah dan Madaniyah.

C.     Ketentuan Dan Ciri-Ciri Khas Makkiyah Dan Madaniyah


Para ulama telah meneliti surat-surat Makkiyah dan Madaniyah dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya, yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut.
a.       Ketentuan Surat Makkiyah yang bersifat Qath’i
Surat Makkiyah yang bersifat qat’I ada 6 macam yaitu sebagai berikut :
1.      Setiap surat yang didalamnya mengandung “sajdah” maka surat itu Makkiyah.
2.      Setiap surat yang mengandung lafal “kalla”berarti Makkiyah. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur`an dan di sebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surat.
3.      Setiap surat yang mengandung “yaa ayyuhan naas” dan tidak mengandung “yaa ayyuhal ladzinaa amanuu”, berarti Makkiyah. Kecuali surat al-Hajj yang pada akhir surat terdapat ayat “yaa ayyuhal ladziina amanuur ka`u wasjudu”. Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah Makkiyah.
4.      Setiap surat yang menngandung kisah para nabi umat terdahulu adalah Makkiyah, kecuali surat Al Baqarah.
5.      Setiap surat yang mengandung kisah Adam dan iblis adalah Makkiyah, kecuali surat Al Baqarah.
6.      setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan seperti “alif lam mim”, “alif lam ra”, “ha mim” dll, adalah Makkiyah. Kecuali surat Al Baqarah dan Ali-Imran, sedang surat Ra`ad masih diperselisihkan.[7]

b. Tema & Gaya Bahasa Surat Makkiyah yang bersifat Ablaghi
Dari segi ciri tema dan gaya bahasa sebagai berikut :
1.      Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, argumentasi dengan orang musyrik dengan menggunkan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
2.      Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan ahlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dzalim. Penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
3.      Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelaran bagi mereka sehingga megetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka, dan sebagai hiburan buat Rasulullah SAW sehingga ia tabah dalam mengadapi gangguan dari mereka dan yakin akan menang.
4.      Suku katanya pendek-pendek atau ayat-ayat Makkiyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat-ayat Qishar. disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras. Menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti surat-surat yang pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.
5.      Terdapat banyak lafadz sumpah.
D.     Perbedaan antara Makkiyah dan Madaniyah

a.  Perbedaan Pada Konteks Kalimat.
1. Kebanyakan ayat-ayat Makiyyah memakai konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yang didakwahi menolak dan berpaling, maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yang tegas. Baca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar.
Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Baca surat Al-Maa’idah.
2. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Baca surat Ath-Thuur.
Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum-hukum dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dengan kondisi obyek yang didakwahi. Baca ayat tentang hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.
b.  Perbedaan Pada Materi Pembahasan
1. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan ; karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu.
Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan perincian ibadah dan muamalah.
2. Penjelasan secara rinci tentang jihad berserta hukum-hukumnya dan kaum munafik beserta segala permasalahannya karena memang kondisinya menuntut demikian. Hal itu ketika disyariatkannya jihad dan timbulnya kemunafikan, berbeda halnya dengan aya-tayat Makkiyah.


E.     Surah Yang Turun di Makkah dan Madinah Serta yang Diperselisihkan

Pendapat yang paling populer dan tentang bilangan suratsurat Makkiah dan Madaniyah ialah bahwa Madaniah ada dua puluh surah:
1) alBaqarah; 2) Ali ‘Imran; 3) anNisa; 4) alMa’idah; 5) alAnfal; 6)  atTaubah; 7) anNur; 8) alAhzab; 9) Muhammad; 10) alFath; 11) alHujurat; 12) alHadid; 13) alMujadalah; 14) alHasyr; 15) alMumtahanah; 16) alJumu’ah; 17) alMunafiqun; 18) atTalaq ; 19) atTahrim; da 20) anNasr.
Yang diperselisihkan ada dua belas surah; 1) alFatihah; 2) arRa’d; 3) arRahman; 4) asSaff; 5) atTagabun; 6) atTatfif; 7) alQadar; 8) alBayyinah; 9) azZalzalah; 10) alIkhlas; 11) alFalaq; dan 12)anNas.
Selain yang tersebut diatas adalah Makkiah.
Dengan menamakan sebuah surah itu Makkiah atau Madaniah tidak berarti bahwa surah tersebut seluruhnya Makkiah atau Madaniah, sebab di dalam surah Makkiah terkadang terdapat ayatayat Madaniah, dan di dalam surah Madaniah pun terkadang terdapat ayatayat Makkiah. Dengan demikian, penamaan surah itu Makkiah atau Madaniah adalah menurut sebagian besar ayatayat yang terkandung di dalamnya. Karena itu, dalam penamaan surah sering disebutkan bahwa surah itu Makkiah kecuali ayat “anu” adalah Madaniah; dan surah ini Madaniah kecuali ayat “anu” adalah Makkiah. misalnya surah alAnfal itu Madaniah, tetapi banyak ulama mengecualikan ayat 30 yang dianggap sebagai ayat Makkiah.[8]


KESIMPULAN

Ayar-ayat  Al-Qur’an  dibagi  ke  dalam  dua  kategori  yaitu  ayat-ayat Makiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah didefinisikan dalam empat perspektif, keempat perspektif itu adalah masa turun (Zaman  An-Nuzul),  tempat  turun  (Makan  An-Nuzul), objek  pembicaraan (Mukhatab), dan Teman Pembicaraan (Maudu’). Untuk mengetahui mana yang termasuk  kategori  ayat-ayat Makiyyah  dan  Madaniyyah dilakukan  melalui  duaperangkat  pendekatan,  diantaranya  pendekatan  transmisi (Periwayatan),  danpendekatan analogi (Qiyas). Masing-masing kategori memiliki ciri-ciri yang spesifik, baik dari segi lafadz, tema, maupun isi. Ada beberapa surat yangditurunkan di Madinah sedangkan hukumnya termasuk ayat Makiyyah itu karenayang menjadi khitab orang Mekkah. Pengklasifikasian ayat-ayat dan surat-surat Al-Qur’an ini membantu kitauntuk dapat mengetahui langkah-langkah yang berangsur-angsur ditempuh oleh Al-Qur’an seiring dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.




PUSTAKA

http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/makkiyah-dan-madaniyah/
http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/urgensi-pembagian-surat-makkiyah- http://marzokey.wordpress.com/2010/02/15/makki-dan-madani/
http://www.scribd.com/doc/44056070/Makalah-Makiyyah-dan-Madaniyah
Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Quran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992) hlm.47.
dan-madaniyah
Syeikh Muhammad bin Shalih Al_ utsaimin, Ushuulin Fie At_Tafsir ( Pustaka As_sunnah )


[1] http://www.scribd.com/doc/44056070/Makalah-Makiyyah-dan-Madaniyah 5 April 2011 10.22
[2] http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/makkiyah-dan-madaniyah/ 18.38/4 April 2011

[3] Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Quran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992) hlm.47.
[4] ibid
[5].http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/urgensi-pembagian-surat-makkiyah-dan-madaniyah/ 18.36 4 April 2011

[6] Syeikh Muhammad bin Shalih Al_ utsaimin, Ushuulin Fie At_Tafsir ( Pustaka As_sunnah )
[7].http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/ketentuan-dan-ciri-ciri-khas-makkiyah-dan-madaniyah/ 18.37 4 April 2011
[8].http://marzokey.wordpress.com/2010/02/15/makki-dan-madani/21.53/6/April/2011

0 komentar:

Poskan Komentar